Kamis, 13 Oktober 2011

SELAYANG PANDANG KEPALA SEKOLAH SMP NEGERI 17 KOTA CIREBON DI TAHUN 2013





   

Di era global dan pesatnya Teknologi Informasi ini, tidak dipungkiri bahwa keberadaan sebuah website untuk suatu organisasi. Sarana website ini dapat digunakan sebagai media penyebarluasan informasi-informasi dari sekolah, yang memang harus diketahui oleh stake holder secara luas. Disamping itu, website juga dapat menjadi sarana promosi sekolah yang cukup efektif. Berbagai kegiatan positip sekolah dapat diunggah, disertai gambar-gambar yang relevan, sehingga masyarakat dapat mengetahui prestasi-prestasi yang telah berhasil diraih.
Sebagai media pembelajaran, website sekolah dapat memuat blog-blog yang dibuat oleh guru-guru. Di dalam blog tersebut guru dapat menuliskan berbagai artikel tentang pembelajaran atau materi penting pelajaran yang bersangkutan. Bahkan guru dapat memberikan tugas-tugas Mandiri kepada peserta didik melalui blog yang disiapkan, sehingga akan menunjang kegiatan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi.
Website juga dapat dijadikan sarana komunikasi antara sekolah dengan para alumni. Bahkan alumni dapat memanfaatkan website sekolah untuk konsolidasi, sehingga terbentuk ikatan alumni yang makin besar dan kuat. Sekolah menyadari bahwa alumni merupakan salah satu potensi yang apabila digali dan dikelola dengan baik dan benar akan mampu memberikan kontribusi yang sangat positif kepada sekolah.
    

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
LILIK AGUS DARMAWAN , S.Pd.

Sabtu, 26 Februari 2011

GURU SEBAGAI PENDIDIK DAN PENGAJAR


Kita ingat kepada seorang pelatih renang nasional, waktu itu tengah malam kira-kira jam 11an dan saya tanya kepadanya, apa agenda besok yang akan dikerjakan. Dia menjawab “saya jam 5 pagi harus sudah dikolam renang”. Kita bayangkan kalau jam 5 ada dikolam, maka jam berapa ia harus malakukan persiapan. Selanjutnya ia harus mengajar jam 7 sampai jam 11, dan jam 5 sore ia harus berada lagi di kolam sampai jam 8 malam.
Sekarang kita bertanya, apakah orang itu membuat anak-anaknya manjadi pintar?
Kita jawab ‘YA’
Apakah guru mengharapkan muridnya menjadi pinter?
Kita jawab ‘YA’
Apakah si pelatih itu sebagai guru?
‘YA’, karena ia memberikan bahan ajar.
“Tetapi perlu diingat sebagai guru professional adalah dia berfungsi bukan hanya membuat siswa menjadi pintar dan menguasai materi pelajaran, namun membuat mereka tumbuh secara integral dan utuh sebagai manusia supaya mereka dapat semakin berkembang dalam menjalani kehidupan dimasyarakatnya".
Jadi rekan-rekan guru terhormat kalau ingin menjadikan siswa-siswi kita pintar dan dapat menguasai pelajaran, luangkanlah waktu kita untuk lebih banyak memberikan bahan ajar kepada siswa. Selanjutnya mendidik karakter siswa dengan iklas dan bertanggung jawab akan menjadikan anak didik kita mempunyai akhlak yang mulia, dan akan mampu menjalani hidup dimasa yang akan datang.
Sebagai guru kita berani untuk mengatakan bahwa sesuatu itu benar dan itu salah, kalau memang hal tersebut adalah aturan yang berlaku di sekolah, sehingga tidak ada yang kita katakan samar hanya diakibatkan karena perasaan takut, baik takut karena tidak menjadi guru pavorit, ataupun takut kalau berbeda prinsip dengan anak, sehingga takut siswa memusuhinya. Kita sebagai guru juga harus jujur kepada siswa supaya siswanya lebih jujur dan dapat dipercaya.
Selanjutnya bagi siswa-siswi yang saya banggakan hargailah perjuangan guru-guru kita dan taatilah aturan pendidikan yang ada di SMP 17 ini, karena peraturan harus dilaksanakan dan tidak boleh dilanggar, kalau yang melanggar harus dikasih sangsi. Semua siswa harus kerja sama dengan siswa yang lain dan semua guru supaya sekolah kita ini bisa berprestasi baik di tingkat kota,wilayah ataupun nasional.
                                                                                                             Cirebon,4 Des. 2010

PEKAN OLAHRAGA NASIONAL SEBAGAI MODAL ANAK BANGSA DALAM KANCAH INTERNASIONAL



Studi tentang sosial budaya Indonesia yang mempengaruhi pekan olahraga nasional
      Bulu tangkis diera tahun 1980an yaitu jamannya Rudi Hartono mejadi buah bibir masyarakat di seluruh tanah air kita, karena waktu itu atlit kita ini menjadi yang terbaik dalam perbulutangkisan di dunia, bahkan atlit ulet ini menjadi juara dunia 9 kali. Untuk tingkat Asia ataupun  Asia tenggara olahraga ini bahkan lebih meroket lagi prestasinya, yakni karena sudah menjadi langganan memborong piala-piala setiap kejuaraan. Pastinya kita ketahui juga bahwa olahraga lainpun pernah menorehkan tinta emas di tingkat SEA GAMES, seperti sepak bola, pencak silat, dayung, atletik, dan lain – lain.                                                                                                     
           Suatu hal yang wajar apabila timbul kebanggaan yang luar biasa bagi atlit daerah yang menjadi tim andalan Nasional, dimana mereka berangkat dari kentalnya pembinaan khas daerah yang dipengaruhi oleh unsur-unsur lokal yang menjadi ciri kehidupannya. Seperti munculya tim sepak bola “Mutiara Hitam” dari Jayapura yang terkenal dengan  perpaduan teknik dan fisiknya yang prima, sehingga menjadi langganan penghuni Pelatnas di Jakarta, berbeda lagi dengan tim dari Jawa Timur yang mayoritas mempunyai daya juang tinggi sehingga dalam pertandingan yang menentukan berusaha mati–matian untuk memenangkan kompetisi. Lain lagi ceritanya untuk cabang olahraga bulu tangkis dari jawa barat yang mepunyai teknik tinggi khas, dari mulai jamannya Ii Sumirat sampai ke Taupik Hidayat, mereka adalah produksi daerah yang betul–betul menjadi idola  masyarakat Bandung Jawa Barat dan merupakan atlit terbaik di negara Bhineka Tunggal Ika ini.
            Keragaman cabang olahraga unggulan dari setiap daerah yang melakukan pembinaan dengan dukungan pemerintah daerah , lingkungan masyarakat ataupun lingkungan geografisnya dari dahulu sampai saat ini adalah merupakan potensi untuk mendapatkan prestasi nasional dan internasional. Prestasi yag dicapai oleh daerah–daerah itu harus menjadi suatu motivasi untuk terus mengembangkan dan meregenerasikan kepada atlit–atlit muda yang menjadi harapan di masa datang. Bahkan prestasi yang dimiliki daerah ini harus menjadikan komoditas yang bisa mengangkat nama daerah itu dikenal dimata bangsa ataupun dunia. Sebaliknya kepopuleran suatu  daerah akan menurun bahkan bisa hanya tinggal kenangan, apabila masyarakat dan unsur–unsur yang  terkait tidak dapat melestarikan kebijakan pemerintah ataupun pola–pola pembinaan olahraga yang sudah berjalan dengan baik. Oleh sebab itu kita sebagai insan bangsa yang hidup di daerah mempunyai kewajiban untuk tetap menjaga sistim keolahragaan yang berlaku dapat berjalan dengan semestinya dan mempunyai proyeksi untuk lebih maju dimasa yang akan datang.
           Wadah kompetisi potensi–potensi olahraga daerah dari tahun 1948 sampai masa sekarang ini adalah PON (Pekan Olahraga Nasional), yang dilaksanakan 4 tahun sekali. Tujuan dari kegiatan ini diantaranya sebagai evaluasi pembinaan olahraga di daerah dan untuk mempersiapkan atlit–atlit muda untuk berlaga ditingkat yang lebih tinggi (Sea Games, Asia, Dunia). PON ini juga adalah sebagai ajang pembuktian tingkat keseriusan Pemerintah Daerah dalam menangani olahraga dan sebagai suatu parameter dalam hal kompetensi pelatih/pembina serta para pengurus yang ada didalamnya. Selain sebagai tujuan utama untuk meningkatkan prestasi olahraga Nasional, dapat dirasakan juga sebag ai tempat silaturahmi akbar yang prakteknya terdapat kepentingan–kepentingan sosial yang justru dapat menumbuhkan rasa kesatuan dan kebesaran bangsa Indonesia.
            Untuk mempersiapkan event olahraga nasional terbesar di bumi pertiwi ini ( PON), setiap daerah sudah memplaning untuk menentukan target yang cukup realistis.  Dengan dana  APBD dan dana stimulan yang dikucurkan dari pusat, beberapa daerah ada yang meginginkan menjadi bagian suksesnya pelaksanaan kompetisi ini dengan bersedianya menjadi tuan rumah pekan olahraga tingkat Nasional tersebut, yang pasti alasannya adalah terangkatnya reputasi dan prestasi daerah. Suksesnya suatu daerah dalam meraih tempat nomor wahid disetiap cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional akan membuat daerah itu terhormat dan tak mustahil menjadi sorotan mata setiap orang, selanjutnya akan menjadi modal untuk mempromosikan potensi–potensi daerah yang dimilikinya selain olahraga itu sendiri.
           Konsep–konsep yang dimiliki oleh setiap daerah yang tujuannya untuk meningkatkan prestasi olahraga nasional kadang ada banyak pertentangan, yang disebabkan konsep yang diajukan itu tidak sesuai dengan satu atau beberapa daerah lain.  Suatu contoh kasus adanya cabang olahraga yang tidak dipertandingkan oleh tuan rumah dengan alasan sarana dan prasarana yang kurang mendukung, padahal mungkin saja cabang olahraga yang dihapus tersebut adalah merupakan andalan untuk mendulang emas dari satu daerah atau lebih. Selain itu tentang peraturan pertandingan misalkan ada daerah yang memberikan usulan konsep tentang peraturan suatu cabang olahraga yang tidak boleh menggunakan pemain profesional, hal ini tentu akan mengundang folemik yang cukup alot  untuk memecahkannya. Begitu juga perbedaan prinsip atau pandangan di lapangan antara pelatih ataupun atlit, ini pasti  perlu juga perhatian bagi para panitia PON berikut wasit dan juri itu sendiri untuk tidak memihak kepada siapapun atau daerah manapun.  Tentunya konsep–konsep yang terlalu mamaksakan kepentingan kedaerahan, kemungkinan akan menimbulkan konflik sesama daerah atau individu para atlit  sehingga bisa mengganggu bahkan merusak pelaksanaan pertandingan dilapangan, yang pasti nilai–nilai bersifat nasionalisme yang ada dalam tujuan PON tersebut akan tercemar.
          Persaingan yang terjadi di lapangan adalah bukan merupakan konflik, walaupun kompetisi tersebut bisa berpotensi menimbulkan konflik. Kalau kompetisi ini diatur oleh panitia PON dengan tidak memihak kesatu daerah (netral) dan semua tim mengikuti aturan tersebut dengan sportif, maka pertandingan ini akan sangat menarik. Terlebih lagi dalam Pekan Olahraga Nasional ini kadang pihak Pengurus Besar tiap cabang olahraga dalam hal ini Pelatnas menjanjikan merekrut bagi atlit yang juara serta mempunyai potensi untuk masa depan. Tidak kalah pentingnya juga pemerintah daerah seakan–akan merupakan suatu kewajiban untuk memberikan motivasi berupa hadiah atau bonus financial yang cukup besar bagi atlitnya yang mandapatkan rangking ke 1 (satu) sampai ke 3 (tiga), ditambah dengan didukung oleh penonton yang fanatisme daerah, maka kompetisi ini akan menampilkan pertandingan yang berkualitas dan semarak.
            Disisi lain ada yang perlu mendapat perhatian bagi semua pihak tatkala motivasi atlit sudah terfokus kepada bonus yang sifatnya komersil, fenomena ini terjadi degan adanya manifulasi dalam suatu pertandingan yang menentukan tetapi hasil dari pertandingan itu sangat kontroversi dengan potensi kualitas atlit. Sebetulnya hal ini bukan rahasia lagi bagi kita, seperti atlit nasional yang handal dikalahkan oleh atlit yang skill- nya setingkat masih dibawah, motif-nya adalah atlit tersebut memperhitungkan untung rugi apabila memenangkan dan mengalah dalam petandingan tersebut yang dihubungkan dengan bonus dari kedua daerah yang bertanding. Namun hal ini bisa terjadi karena adanya pihak ke tiga yang memanfaatkan kepentingan individu yang mengatasnamakan kepentingan daerah.  Sehingga sekandal yang seperti ini ataupun sekenario yang motifnya komersil harus dihilangkan, supaya dalam acara olahraga 4 tahuan ini tetap mempuyai misi yang baik secara umum yaitu untuk meningkatkan prestasi olahraga nasional di tingkat regional dan internasional.
           PON tahun 2008 di Kalimantan Timur yang mempertandingkan 43 cabang olahraga adalah merupakan pelaksanaan yang cukup masuk akal menjadi bekal untuk bisa mengangkat nama baik bangsa Indonesia dikancah olahraga. Dengan banyaknya cabang olahraga yang dipertandingkan boleh dikatakan merupakan suatu strategi negara kita untuk mencanangkan munculnya atlit – atlit baru  dari cabang olahraga yang mungkin sebelumnya tidak dipertandingkan selain cabang olahraga yang biasa menjadi langganan sebagai  raja dilapangan.  Bulu tangkis, dayung, balap sepeda, atletik, angkat berat dan lain –lain adalah merupakan andalan untuk menjadikan bendera merah putih sebagai kebanggaan negara Indonesia berkibar dihadapan bangsa – bangsa lain diarena Sea games (Asia Tenggara). Fenomena ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bersatu dan berkualitas. Dengan lebih banyak lagi negara kita memberikan kesempatan kepada setiap daerah untuk mengembangkan dan meningkatkan cabang olahraga yang menjadi unggulan setiap daerah , maka kita  akan lebih kaya lagi degan prestasi – prestasi olahraga anak bangsa yang kemudian diharapkan dapat mengharumkan bangsa di negara – negara Asia Tenggara  ataupun dunia pada umunya.
           Pekan Olahraga Nasional adalah multi even yang menjadikan aset terbesar dalam menyumbagkan duta – duta olahraga nasional yang berkiprah di tingkat internasional, oleh karena itu kita perlu selalu mendukung dan menjadi bagian didalamnya sebagai pengembang dan peningkatan mutu olahraga. Bagaimanapun kita sebagai insane olahraga , dan hampir setiap hari kita selalu bergelut dengan hal yang berkaitan dengan olahraga tentu mempunyai peranan walupun memang tidak secara langsung dapat menghasilkan produk – produk atlit yang berprestasi tinkat nasional, seperti dikatakan oleh Santosa Giriwijoyo(2007:79) bahwa “anak yang berolahraga adalah atlit elit dimasa depan”. Sehingga sekolah sangat mendukung pelaksanaan PON, dan PON adalah sebagai Modal Anak Bangsa dalam Kancah Internasional.
IKIN SAHRIKIN